Sunday, July 28, 2013

Lepasnya "Setan Liverpool" yang Terkurung sejak SMA

Suasana khidmat ketika Imagine berkumandang


Acara-acara yang berbau Beatles selalu menarik buat gue. Sejak SMA gue memang sudah tergila-gila dengan band asal Liverpool itu, semenjak gue mulai belajar gitar dan temen gue memperkenalkan lagu Yesterday.

Sayang, sejak kuliah kefanatikan itu memudar. Bukan karena apa-apa, cuma karena masalah jarak. Dulu waktu SMA gue dengan mudahnya bawa gitar ke sekolah yang jaraknya cuma 1 km dari rumah. Sekarang dengan jarak 32 km, bawa gitar sambil naik motor bukanlah hal yang nyaman, apalagi ditambah buku-buku kuliah yang seabrek dan beratnya ampun-ampunan,dan mobilitas gue yang tinggi di lingkungan kampus. Alhasil, bukan cuma minat gue ke Beatles yang memudar, minat musik pun nggak sebagus dulu lagi.

Tadi malam, 26 Juli 2013, komunitas Beatlemania Indonesia ngadain acara bernama 3 Generation, yakni pementasan band-band tribute dari 3 band Inggris yang berasal dari 3 dekade yang berbeda: Beatles (era 60-an), Queen (era 70-80-an) dan Oasis (90-an). Sebenernya BMI udah sering sih ngadain acara tribute kayak gini, cuma gue jarang ada temen buat dateng ke sana, alasannya klasik: ga ada temen -_-

Dan malam kemarin, gue memberanikan diri main ke Maitrin Lounge and Cafe, sebuah kafe di daerah Pulogadung, untuk nonton acara 3 Generation ini bareng temen gue yang bernama Yonathan (namanya pernah muncul di postingan gue berjudul Jane Asher). Malam itu, bokap gue lagi ke Pekanbaru, jadi gue bebas mau ke mana aja, dan pas banget hari itu gue jenuuuh banget setelah seminggu terkurung di rumah. Yaudah deh beduaan aja tuh ke Maitrin naik motor dari Depok. Taunye sampe sono masih sepi bener, padahal ngomong mulai jam 5, yeah Endonesaaaah...

Ruangan kafe gelap (ya iyalah namanya juga kafe, emangnya warteg) dihiasi cahaya minimalis dan sebuah lampu disko di tengah dance floor. Suasana Maitrin Lounge and Cafe bikin gue berasa kayak anak borju lah, norak abis gue.

Sekitar jam 7-an baru mulai naik tuh satu band Beatles bernama Monroe yang penampilannya nyentrik banget, bawain lagu-lagu rock n'roll seperti Boys, Hippy Hippy Shake, Kansas City... Tapi gue dan Yonathan masih duduk di sofa cafe. 

"Jangan diri dulu, belum rame, dan kita masih newbie di sini." 
"Oke," jawab Yonathan setuju.

Kayak yang udah sering gue ceritain,  gue ini orangnya pemalu dan kalo baru kenal mungkin orang boleh kata gue sombong. Baru pas satu band tribute Oasis mainin lagu All Around the World, gue ngajak  Yonathan berdiri. Gue suka banget lagu ini, apalagi dibagian nananana-nya yang mirip Hey Jude.



Makin malam, cafe itu makin rame sama anak-anak muda. Beda dengan acara-acara Beatles lainnya yang penontonnya om-om dan kakek-kakek, acara BMI ini penontontonnya 98% anak muda! Gile gak tuh? Setan Liverpool yang terpenjara dalam diri gue mendadak lepas malam itu saat sebuah tribute band Beatles bernama Ain't She Sweet yang vokalisnya cewek membawakan lagu Imagine-nya John Lennon, ditambah satu orang membentangkan foto Lennon di panggung. Suasana gelap, semua penonton mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah mereka membentuk simbol peace, berasa kita semua dipersatukan oleh hasrat mendengarkan lagu-lagu ciptaan Lennon!

Semua Berubah saat Taqin Datang bersama Pasukannya


Suasana cafe gelap saat Taqin menyapa gue di pintu masuk. Taqin adalah drummer di band gue. Bersama Yonathan juga, kami pernah manggung sekali dalam sebuah kompetisi band di kampus dan dapet juara 2 dengan membawakan 3 lagu Beatles yang dimedley jadi satu. Malam ini Taqin dateng agak maleman karena ada acara buka bersama di kampus. Sekitar jam 9 malam dia datang bersama 3 orang temannya. Salah satunya bernama Embri, yang ternyata anak jurusan sejarah UI dan kenal dengan seorang teman SMA gue, dunia memang sempit, yeah klise, bukan dunia yang sempit, tapi pergaulan kita yang luas.

Taqin terlihat begitu liar malam itu, maklum dia bukan newbie lagi di sini. Dia berteriak-teriak kayak penonton OVJ tiap seorang pengisi acara mengucapkan sepatah kata. Di tengah keheningan penonton kadang Taqin nyeletuk.

"Yaaaaaaaah"
"Ha ha ha ha ha"
"Ah masaaaaa?"

"Orang gila..." gumam gue diiringi tawa Yonathan dan kawan-kawannya.

"Lu teriak aje di sini, Yub, ga ada yang larang hahaha," Taqin membela diri. 

Di lagu-lagu Oasis yang dibawakan beberapa band, kita cukup seneng. Saat sebuah band Beatles membawakan lagu I Saw Her Standing There, Taqin dan seorang temannya maju ke depan panggung. Gue yang kebetulan juga demen banget lagu ini menyusul Taqin ke tengah kerumunan penonton, dan akhirnya Yonathan yang paling jaim ikut menyusul gue. Kami ber-ajojing ria mengikuti irama musik rock n'roll. Taqin berusaha merangsek ke panggung dan "memperkosa" mic yang sebelumnya juga telah "diambil alih" oleh penonton yang kelewat semangat. Para pengisi acara pun pasrah, mereka nyanyi dengan mic yang tersisa. Sekarang, panggung dan lantai dansa udah ga ada bedanya, semua menggila dan membaur dengan lagu rock n'roll yang kesohor itu.



I Saw Her Standing There selesai. Mereka menawarkan lagu All My Loving! Wah ini sih mainan gue di studio! hajaaaar! Drum kembali digebuk, strumming gitar ala Lennon dan suara bass ala McCartney yang "jalan-jalan" langsung menggema, semua orang berjoget menggila. Taqin udah di atas panggung! Gue ikut! Gue naik ke panggung, mengambil banner The Beatles yang terjatuh bersama penonton lainnya, dan membentangkannya di atas panggung sambil tetap nyanyi. Terus kita semua turun, membentuk lingkaran, dan berputar cepat mengikuti irama gebukan drum yang renyah dan bersemangat. Yonathan yang tadinya jaim akhirnya ga bisa menolak godaan untuk berpesta, dia ikut muter juga sampe teler.



Di lagu 'Till There was You yang lembut dan mendayu-dayu, Taqin naik ke panggung dan bernyanyi bersama sang gitaris. Gue cukup dari bawah lah, udah kecapean. Cukup sampe di lagu itu aja aksi Taqin, setelah itu dia cari balik ke tempat duduk dengan napas terengah-engah gara-gara teriak-teriak nyaingin suara penonton yang riuh.

Roll over Beethoven-nya Chuck Berry yang dicover George Harrison nggak lupa dipasang buat menambah greget suasana. Efek gitar 60-an membuat kita berasa kembali ke Cavern Club dengan gadis-gadis histeris yang menarik-narik rambut mereka sendiri saat melihat Beatles beraksi.

Dan aksi gue pun berhenti di lagu Hey Jude, setelah berhasil "memperkosa" sebuah mic bersama penonton lainnya dan jejeritan melantunkan lirik "nananana", gue balik ke sofa dengan keringat mengucur deras dan tenggorokan kayak mau putus. Yonathan yang belum makan dari siang matanya merem melek antara nahan lapar, nahan pegel, dan nahan kantuk.
Pemerkosaan mic

Selebihnya gue lebih banyak menikmati aksi panggung dari sofa cafe. Penonton yang tadinya berdiri dan berjoget, satu persatu mulai tumbang dan duduk di lantai dansa. Pengisi acara berusaha merangsang mereka bangun lagi dengan The Ballad of John and Yoko, tapi hasilnya nihil, mereka udah terlanjur klenger duluan. Gue mulai melepas lelah dengan berbincang-bincang dengan teman baru gue, Embri, mulai soal kampus, hingga teman-teman lama.

Jam menunjukkan pukul 22.45 saat kita memutuskan untuk pulang. Yang gue heran, ini pertunjukan namanya 3 Generation, tapi dari awal sampe gue pulang kaga ada yang bawain lagu Queen yak -_- Ya mungkin setelah gue pulang baru dibawain kali ya, entahlah.
Puas banget lah, ga sia-sia dateng jauh-jauh demi melepas setan Liverpool dalam dada gue ini. Dan yang paling penting dari acara ini adalaaaaaah: GRATIS! Kata kunci yang wajib ada dalam setiap acara mahasiswa. :p

Seumur-umur gue kenal acara komunitas Beatlemania, jujur gue baru liat yang segila ini, seakrab ini, dan se"muda" ini. Beda banget sama acara Beatles yang banyakan isinya "veteran perang" yang udah terlalu tua untuk berjoget. Di sini, para penonton yang tadinya nggak saling kenal bisa jadi akrab banget saat berdendang, membentuk lingkaran, dan menggila bersama. Terima kasih buat @beatle_INA yang udah ngadain acara ini, lain kali saya pasti datang lagi!

photo credits: Alvin John Winata/Twitter: @alvinjw

No comments:

Post a Comment