Tuesday, August 5, 2014

Candu Kesendirian



Suatu malam saat hujan deras turun di Depok. Warga sejenak meninggalkan aktivitasnya di jalanan. Mereka berteduh, sekadar melepas lelah setelah seharian bekerja. Sebagian lagi larut dalam kehangatan warung-warung kopi yang setia mengepulkan asap wangi yang menyapa hidung dengan akrabnya. Sebagian lagi terus melaju pulang seperti sudah seribu tahun belum melihat rumahnya sendiri.

Inilah saat yang gue tunggu-tunggu, menyapa rintik hujan yang mesra berjatuhan dari atap dunia. Bermodal sebuah jaket dan tas kecil, gue keluar dari rumah sambil menghirup wangi hujan. Menyusuri jalanan kampung yang gelap dan licin sampai bermuara di jalan raya yang nggak seberapa ramai.

"Terminal, Bang?"
"Ya, terminal."

Tujuan gue malam ini tidak lain adalah Stasiun Depok Baru. Stasiun terbesar dengan penghasilan tertinggi yang ada di kota ini. Sayang, jalan akses ke stasiun itu masih dikepung para pedagang pakaian liar yang bangun lapak di luar lahan yang udah dipagari PT KAI. Suasananya kurang lebih mirip pasar Diagon Alley di film Harry Potter.

Singkat, selesai sudah gue menerobos lapak-lapak pakaian itu, terhamparlah lapangan luas di depan stasiun. Orang-orang berlari-lari di lapangan  yang basah habis diguyut hujan itu, mengejar kereta yang menurut si announcer stasiun sudah berjarak satu stasiun saja dari stasiun ini. Setelah tap tiket masuk, terlihatlah kalau stasiun ini dulunya dirancang dengan sangat baik. Kaca-kaca besar memungkinkan matahari masuk sehingga stasiun nggak perlu menghabiskan listrik terlalu banyak untuk penerangan di siang hari. Terowongan bawah tanah membuat para penumpang kereta bisa menyeberang dari peron ke peron dengan aman. Kantor pengawas yang melintang di atas jalur KA memungkinkan para pengawas untuk memastikan stasiun aman dilintasi oleh kereta-kereta yang melintas di jam sibuk. Hanya saja, masa-masa kelam perkeretaapian negeri ini satu dekade terakhir membuat stasiun ini kehilangan kemegahannya. Malam ini, stasiun itu berbenah. Tukang-tukang wara-wiri membawa kaleng-kaleng cat dinding untuk memoles stasiun itu supaya tampak lagi masa jayanya. Toilet stasiun dibenahi sehingga membuat siapa saja yang lewat di depannya tertarik untuk sekadar buang air kecil bahkan hanya untuk membasuh wajah.

Kereta yang gue tunggu akhirnya sampai. Pintu otomatis membuka, nggak seberapa banyak penumpang yang turun. Setelah berdiri di dalam kereta tak lebih dari 10 menit, gue dapat tempat duduk kosong. Malam itu kereta listrik Commuterline tujuan Jakarta Kota cukup sepi. Cukup banyak bangku yang kosong. Hujan masih turun di luar, dinginnya masih terasa, begitulah dinginnya, dingin kesendirian. Kesendirian yang menurut orang-orang menyiksa, tapi buat gue punya sensasi tersendiri. Dingin yang membuat gue ngerti, betapa dingin itu adalah impian milik orang-orang yang kepanasan. Dingin yang selalu mengingatkan gue bahwa dalam dingin yang nggak diinginkan banyak orang. Dingin yang membuat orang takut kalau-kalau mereka nggak bisa melihat matahari lagi. Dingin yang membuat orang-orang kota tertidur lelap dalam rumah-rumah mereka setelah seharian jiwa dan raganya diperas untuk kepentingan pemilik modal. Dingin yang menegaskan kalau kesendirian adalah sesuatu yang sepatutnya disyukuri, bahkan dinikmati, kalau perlu.

Depok-Jakarta-Bekasi, 8 Juli 2014


Sunday, March 9, 2014

Vaarwel, Tot Betere Tijden !

Ignatius Susilo Priyanto
Satu kali kau gendong aku melihat perumahan sebelah yang baru dibangun.
"Perumahan elit," katamu.
Hutan Depok yang rimbun sudah dibuka oleh orang Jakarta, mereka datang.
Seminggu sekali kau ajak aku ke sungai di sebelah perumahan itu, melihat biawak yang (jika beruntung) berenang melawan arus sungai
Sebuah sepeda biru bekas bermerek Daichi kau belikan untukku, kau ajari aku menjaga keseimbangan
Berkali-kali kau terkekeh melihat kebodohanku, jatuh dan bangun lagi, hingga aku bisa dan kau tersenyum puas.

Peluh keringat mengalir setiap malam mengiringi doa-doamu yang kau daraskan di tengah malam
Mungkin minta sejahtera, mungkin minta sehat, atau malah minta kaya? Tebakku
Bis jemputanmu selalu melaju sebelum ayam berkokok, ah sayang sekali, aku tak sempat menciummu
Bahkan sampai kau pergi
Seberapa besar sih gajimu? "Yang penting nggak ngutang" kau berkelit, ya baiklah.
Rokokmu mengepul tiap petang kau selesai menunaikan tugasmu.
"Kepulan kepuasan," gumamku, biar sajalah.

Tiga hari tiga malam kau tidur di lantai rumah sakit yang dingin, menunggu anakmu yang bodoh
Kalau sudah sembuh? "Ya bayar, kalau dia mati baru saya nggak mau bayar." Ucapmu
Pukul tiga pagi kau terjaga, menanti aku yang belum pulang
Pintu diketuk, kau bangkit dan bukakan, amarah? Biarlah setan menanti dengan dongkol di depan pintu
Kita berjumpa setiap malam, bercerita dengan riang apa yang kita temukan hari itu
Kau teguk kopimu, kuteguk susuku, kau cerita, aku tertawa.
Bahkan tertawa untuk sebuah cerita berjudul "Maut".

Hingga sebuah tawa terakhir mengakhiri cerita-ceritamu yang masih kunantikan
Kau diam tak begerak, engkau pergi, aku? Ya, di sini, menyusulmu? Entah aku tak tahu.
Mau menangis? Mau mengeluh? kepada siapa? Lantai yang dingin? Kubur yang bisu?
Pak, kita belum berpamitan, bahkan aku belum sempat sekadar bilang "terima kasih."
Kau mau aku "jadi orang" kan? Baik, aku akan "jadi orang."
Jadi orang yang bagaimana? Kau tahu, aku pun tahu.

Selamat jalan Bapakku sayang, sampai jumpa di tempat dan waktu yang lebih baik.

Memento Mori

Depok, 9 Maret 2014.

Sunday, July 28, 2013

Lepasnya "Setan Liverpool" yang Terkurung sejak SMA

Suasana khidmat ketika Imagine berkumandang


Acara-acara yang berbau Beatles selalu menarik buat gue. Sejak SMA gue memang sudah tergila-gila dengan band asal Liverpool itu, semenjak gue mulai belajar gitar dan temen gue memperkenalkan lagu Yesterday.

Sayang, sejak kuliah kefanatikan itu memudar. Bukan karena apa-apa, cuma karena masalah jarak. Dulu waktu SMA gue dengan mudahnya bawa gitar ke sekolah yang jaraknya cuma 1 km dari rumah. Sekarang dengan jarak 32 km, bawa gitar sambil naik motor bukanlah hal yang nyaman, apalagi ditambah buku-buku kuliah yang seabrek dan beratnya ampun-ampunan,dan mobilitas gue yang tinggi di lingkungan kampus. Alhasil, bukan cuma minat gue ke Beatles yang memudar, minat musik pun nggak sebagus dulu lagi.

Tadi malam, 26 Juli 2013, komunitas Beatlemania Indonesia ngadain acara bernama 3 Generation, yakni pementasan band-band tribute dari 3 band Inggris yang berasal dari 3 dekade yang berbeda: Beatles (era 60-an), Queen (era 70-80-an) dan Oasis (90-an). Sebenernya BMI udah sering sih ngadain acara tribute kayak gini, cuma gue jarang ada temen buat dateng ke sana, alasannya klasik: ga ada temen -_-

Dan malam kemarin, gue memberanikan diri main ke Maitrin Lounge and Cafe, sebuah kafe di daerah Pulogadung, untuk nonton acara 3 Generation ini bareng temen gue yang bernama Yonathan (namanya pernah muncul di postingan gue berjudul Jane Asher). Malam itu, bokap gue lagi ke Pekanbaru, jadi gue bebas mau ke mana aja, dan pas banget hari itu gue jenuuuh banget setelah seminggu terkurung di rumah. Yaudah deh beduaan aja tuh ke Maitrin naik motor dari Depok. Taunye sampe sono masih sepi bener, padahal ngomong mulai jam 5, yeah Endonesaaaah...

Ruangan kafe gelap (ya iyalah namanya juga kafe, emangnya warteg) dihiasi cahaya minimalis dan sebuah lampu disko di tengah dance floor. Suasana Maitrin Lounge and Cafe bikin gue berasa kayak anak borju lah, norak abis gue.

Sekitar jam 7-an baru mulai naik tuh satu band Beatles bernama Monroe yang penampilannya nyentrik banget, bawain lagu-lagu rock n'roll seperti Boys, Hippy Hippy Shake, Kansas City... Tapi gue dan Yonathan masih duduk di sofa cafe. 

"Jangan diri dulu, belum rame, dan kita masih newbie di sini." 
"Oke," jawab Yonathan setuju.

Kayak yang udah sering gue ceritain,  gue ini orangnya pemalu dan kalo baru kenal mungkin orang boleh kata gue sombong. Baru pas satu band tribute Oasis mainin lagu All Around the World, gue ngajak  Yonathan berdiri. Gue suka banget lagu ini, apalagi dibagian nananana-nya yang mirip Hey Jude.



Makin malam, cafe itu makin rame sama anak-anak muda. Beda dengan acara-acara Beatles lainnya yang penontonnya om-om dan kakek-kakek, acara BMI ini penontontonnya 98% anak muda! Gile gak tuh? Setan Liverpool yang terpenjara dalam diri gue mendadak lepas malam itu saat sebuah tribute band Beatles bernama Ain't She Sweet yang vokalisnya cewek membawakan lagu Imagine-nya John Lennon, ditambah satu orang membentangkan foto Lennon di panggung. Suasana gelap, semua penonton mengangkat tangan dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah mereka membentuk simbol peace, berasa kita semua dipersatukan oleh hasrat mendengarkan lagu-lagu ciptaan Lennon!

Semua Berubah saat Taqin Datang bersama Pasukannya


Suasana cafe gelap saat Taqin menyapa gue di pintu masuk. Taqin adalah drummer di band gue. Bersama Yonathan juga, kami pernah manggung sekali dalam sebuah kompetisi band di kampus dan dapet juara 2 dengan membawakan 3 lagu Beatles yang dimedley jadi satu. Malam ini Taqin dateng agak maleman karena ada acara buka bersama di kampus. Sekitar jam 9 malam dia datang bersama 3 orang temannya. Salah satunya bernama Embri, yang ternyata anak jurusan sejarah UI dan kenal dengan seorang teman SMA gue, dunia memang sempit, yeah klise, bukan dunia yang sempit, tapi pergaulan kita yang luas.

Taqin terlihat begitu liar malam itu, maklum dia bukan newbie lagi di sini. Dia berteriak-teriak kayak penonton OVJ tiap seorang pengisi acara mengucapkan sepatah kata. Di tengah keheningan penonton kadang Taqin nyeletuk.

"Yaaaaaaaah"
"Ha ha ha ha ha"
"Ah masaaaaa?"

"Orang gila..." gumam gue diiringi tawa Yonathan dan kawan-kawannya.

"Lu teriak aje di sini, Yub, ga ada yang larang hahaha," Taqin membela diri. 

Di lagu-lagu Oasis yang dibawakan beberapa band, kita cukup seneng. Saat sebuah band Beatles membawakan lagu I Saw Her Standing There, Taqin dan seorang temannya maju ke depan panggung. Gue yang kebetulan juga demen banget lagu ini menyusul Taqin ke tengah kerumunan penonton, dan akhirnya Yonathan yang paling jaim ikut menyusul gue. Kami ber-ajojing ria mengikuti irama musik rock n'roll. Taqin berusaha merangsek ke panggung dan "memperkosa" mic yang sebelumnya juga telah "diambil alih" oleh penonton yang kelewat semangat. Para pengisi acara pun pasrah, mereka nyanyi dengan mic yang tersisa. Sekarang, panggung dan lantai dansa udah ga ada bedanya, semua menggila dan membaur dengan lagu rock n'roll yang kesohor itu.



I Saw Her Standing There selesai. Mereka menawarkan lagu All My Loving! Wah ini sih mainan gue di studio! hajaaaar! Drum kembali digebuk, strumming gitar ala Lennon dan suara bass ala McCartney yang "jalan-jalan" langsung menggema, semua orang berjoget menggila. Taqin udah di atas panggung! Gue ikut! Gue naik ke panggung, mengambil banner The Beatles yang terjatuh bersama penonton lainnya, dan membentangkannya di atas panggung sambil tetap nyanyi. Terus kita semua turun, membentuk lingkaran, dan berputar cepat mengikuti irama gebukan drum yang renyah dan bersemangat. Yonathan yang tadinya jaim akhirnya ga bisa menolak godaan untuk berpesta, dia ikut muter juga sampe teler.



Di lagu 'Till There was You yang lembut dan mendayu-dayu, Taqin naik ke panggung dan bernyanyi bersama sang gitaris. Gue cukup dari bawah lah, udah kecapean. Cukup sampe di lagu itu aja aksi Taqin, setelah itu dia cari balik ke tempat duduk dengan napas terengah-engah gara-gara teriak-teriak nyaingin suara penonton yang riuh.

Roll over Beethoven-nya Chuck Berry yang dicover George Harrison nggak lupa dipasang buat menambah greget suasana. Efek gitar 60-an membuat kita berasa kembali ke Cavern Club dengan gadis-gadis histeris yang menarik-narik rambut mereka sendiri saat melihat Beatles beraksi.

Dan aksi gue pun berhenti di lagu Hey Jude, setelah berhasil "memperkosa" sebuah mic bersama penonton lainnya dan jejeritan melantunkan lirik "nananana", gue balik ke sofa dengan keringat mengucur deras dan tenggorokan kayak mau putus. Yonathan yang belum makan dari siang matanya merem melek antara nahan lapar, nahan pegel, dan nahan kantuk.
Pemerkosaan mic

Selebihnya gue lebih banyak menikmati aksi panggung dari sofa cafe. Penonton yang tadinya berdiri dan berjoget, satu persatu mulai tumbang dan duduk di lantai dansa. Pengisi acara berusaha merangsang mereka bangun lagi dengan The Ballad of John and Yoko, tapi hasilnya nihil, mereka udah terlanjur klenger duluan. Gue mulai melepas lelah dengan berbincang-bincang dengan teman baru gue, Embri, mulai soal kampus, hingga teman-teman lama.

Jam menunjukkan pukul 22.45 saat kita memutuskan untuk pulang. Yang gue heran, ini pertunjukan namanya 3 Generation, tapi dari awal sampe gue pulang kaga ada yang bawain lagu Queen yak -_- Ya mungkin setelah gue pulang baru dibawain kali ya, entahlah.
Puas banget lah, ga sia-sia dateng jauh-jauh demi melepas setan Liverpool dalam dada gue ini. Dan yang paling penting dari acara ini adalaaaaaah: GRATIS! Kata kunci yang wajib ada dalam setiap acara mahasiswa. :p

Seumur-umur gue kenal acara komunitas Beatlemania, jujur gue baru liat yang segila ini, seakrab ini, dan se"muda" ini. Beda banget sama acara Beatles yang banyakan isinya "veteran perang" yang udah terlalu tua untuk berjoget. Di sini, para penonton yang tadinya nggak saling kenal bisa jadi akrab banget saat berdendang, membentuk lingkaran, dan menggila bersama. Terima kasih buat @beatle_INA yang udah ngadain acara ini, lain kali saya pasti datang lagi!

photo credits: Alvin John Winata/Twitter: @alvinjw

Wednesday, July 24, 2013

Reminder

a bullet penetrates your chest, how do you complain?
death is adjacent to us, as a bullet ricochets until a body stop its motion
your heart is too tired to beat, how do you complain?
death is adjacent to us, as your vein pleads to the blood to stop its stream

because a real knight is proud to fight alongside his comrades
even though he was taught to be afraid of losing everything since his childhood
he vows to outgun his enemies, even though a lance would tear down his throat
the lance does, only the creed of his belief would walk him to the exit gate of life

when your end comes, and the sun sets upon you
life is just like a puppy love with the world
world acts like someone you really need to care for
and nothing she gives to you, but a burial

death is adjacent to us although you cry out "long live!"
for he sets a fear towards us, we can say no more
whether or not the afterlife awaits us
one thing remains, the death does

 July 4, 2013



Saturday, July 13, 2013

Ditilang (Maning)

PN Jakarta Selatan

Sembilan bulan sudah sejak terakhir kali gue kena tilang di Kayu Putih, Pulogadung, gara-gara boncengin temen yang ga pake helm, akhirnya gue kena tilang lagi Juni lalu, sekitar tanggal 18 Juni, di daerah Kebayoran. Cerita tilangan ini beneran EPIC (kalo kata anak-anak jaman sekarang) karena terjadi di bawah alam sadar gue. Beginilah ceritanya:

Hari itu, di suatu pagi yang mendung, gue mau nganterin temen gue survey tempat dia mau tes SBMPTN, itu looh tes masuk perguruan tinggi negeri, dan dia kebagian tempat tes di SMA 46 Jakarta, daerah Kebayoran.
Berangkatlah kami dari Depok naik motor pagi-pagi jam 6, berbekal panduan Google Maps yang sudah membantu gue menemukan berbagai macam alamat se-Jakarta, akhirnya berbeloklah kami ke arah Fatmawati. Sepanjang jalan itu, gue punya patokan: saat marka jalan ini berakhir, di situlah letak sekolah itu. Gara-gara temen gue yang ngajak ngobrol mulu, akhirnya sekolah itu kelewatan, dan marka jalan pun habis. Ah nggakpapalah, puter balik aja, pikir gue, gue pun puter balik. Daaaaan... ternyata, akhir dari marka jalan itu menandakan kalo jalan itu adalah jalan satu arah, dan gue nggak sadar, di depan sana seorang bapak polisi muda menanti, DAMN IT!!! BAYANGKAN! Gue ditilang tepat di depan gang SMA 46!!! EPIC!!!

"Pagi mas, mau kemana?"
"SMA 46 pak, kita nggak tau ini satu arah"
Tanpa banyak bacot, dia ngeluarin slip merah, minta STNK gue, dan gue protes lah
"Pak, kami nggak tau ini jalan satu arah, ga ada tandanya juga"
karena udah desperate banget, gue berusaha ngeluarkan 20 ribuan, yah kali-kali dia mau
"Simpen saja uangnya, urus di PN Jaksel," ucapnya sambil ngambil SIM gua
Gue naikin tawaran jadi 50 ribu
"Simpan saja uangnya mas," ucapnya tegas.

Wah gue salut juga, polisi ini sendirian tapi dia nggak mau disuap, oke sejak ini penilaian gue ke polisi sedikit berubah. :)
Yah akhirnya kita masuk ke SMA 46 lewat jalan kampung, padahal kalo daritadi kita lewat jalan itu, kita ga perlu muter.. yah namanya orang nggak tau, dan lagi apes juga -_-

Di hari sidang, gue dateng pagi-pagi ke PN Jaksel di Jalan Ampera, jam setengah 8 udah ada di sana, padahal sidang mulai jam 9. Saat itu, para pegawai PN Jaksel lagi pada senam bersama karena itu hari Jumat, dan pas nunggu gue malah digoda calo-calo di depan PN Jaksel. Calo-calo itu memperlihatkan setumpuk SIM di tangan mereka.

"Ayo mas, cepet kalo sama saya mah, daripada sidang sejam," katanya.
"Nggak makasih mas, saya udah biasa ngantri sendiri," jawab gue sopan.

Beberapa menit kemudian si calo itu datang lagi.
"Udah belom maas? Yaaah lama amat, mending sama saya..."

Wah udah mulai songong nih calo, udah mulai nginsult.. gue diem aja.

Akhirnya sekitar jam 8.30, gue melongok ke gerbang pengadilan, dan di situ ada bapak-bapak pake baju batik.

"Ambil kartunya di mana ya mas?" tanya gue
"Masuk, mentok, sebelah kanan mas,"  jawabnya halus.
"Oke, makasih mas."

Waasuuuu, ternyata pendaftaran udah dibuka dari tadi, halah tau gitu mah gue nggak perlu nunggu di luar pagar dan membiarkan diri gue jadi sasaran tembak para calo, hufth...

Akhirnya gue ambil kartu antrean, gue dapet nomor 52. Gue akui sistem pengadilan tilang di Jaksel ini jauh lebih efektif daripada di PN Jaktim. Di PN Jaktim, terdakwa diberi nomor urut tapi nggak urut,. Contoh: orang yang dateng pagi bisa dapet nomor urut 100, sementara yang dateng siang dapet nomor urut 10, jadi ya untung-untungan. Nah kalo di sini enggak, yang daftar duluan ya duluan juga disidangnya, jadi lebih tertib.

Gue menanti di depan pintu pengadilan, cuma satu ruang pengadilan yang dipake. Sidang ngaret 15 menit, Pak Hakim-nya baru dateng. Bapak-bapak yang nunggu barengan gue sidang sempat menggerutu karena ngaret.
"Naaaah tuh dia hakimnya baru bangun, masih belekan dia," celetuk salah seorang Bapak disambut tawa bapak-bapak yang lain.

"Nomor 1-20, Masuk!!!" seorang pegawai pengadilan meneriakkan orang yang dapet nomor antrean 1-20. Sisanya tunggu di luar, termasuk gue yang dapet shift ke-3.
Sembari menunggu, gue ketemu seorang (sepertinya berasal dari Indonesia Timur) yang kocak abis.

"Mas, saya takut mas, takut dipenjara saya..." Bapak-bapak lain tertawa terkekeh-kekeh dengar curhatannya.
"Hahaha ga usah takut mas, paling cuma ditanya salah apa terus suruh bayar."
"Saya belom siapin pengacara mas..."
"Hahahahahaha..." kami semua tertawa terbahak-bahak.

Saat gue disidang pun tiba. Gue masuk ruang pengadilan, yeah rada gugup juga soalnya panitera-nya manggil terdakwa udah macam algojo mau menggal pala orang, bentak-bentak gitu;
"nomor empat enam??? mana empat enam??? cepat masuk!!! Lama banget!!!"
Ya maklum juga sih, dia nggak pake mikrofon.

Akhirnya gue siaga, begitu nomor 52 dipanggil, gue langsung maju. Sang panitera galak itu mengatur jarak berdiri gue dengan meja hakim supaya nggak terlalu deket.

"Pelanggaran lalu lintas jalan raya, Rp70.000,00, bayar di sana," kata hakim sambil menunjuk meja pembayaran denda.

Gue udah ga kaget lagi, ya sidang tilang memang sesimpel itu, maju, akui kesalahan, bayar. FYI, ternyata dendanya naik, dulu pelanggaran lalu lintas dendanya 60 ribu hihi, tapi yasudahlah.

Di meja pembayaran udah ngantri tuh orang-orang sial lainnya, mereka bawa nomor antreannya.
"Berapa mas? lima dua? 70 ribu." ucap seorang mbak-mbak yang jadi kasirnya masih muda nih mbak-mbak, cantik pula hihihi.
Gue serahkan uang 100 ribu, dikembaliin lah uang 30 ribu dan SIM gue yang udah belang bentong distaples banyak banget. Yaokelah gapapa yang penting semuanya kelar.

Singkatnya, gue pulang ke Depok dan sampe rumah sebelum jam 10 pagi, kalo ditotal sidang itu nggak ada sejam, cuma 30 menit kurang malah, bohong tuh calo, jangan percaya hehehe...

NB: gue nggak bilang-bilang bokap soal tilang ini, kalo dia tau bisa ngamuk banget, makanya gue bayar pake duit tabungan gue wakakak, gapapalah ini kan gue yang salah.

Oke segitu aja cerita di liburan gue yang suram ini, sampai jumpa! ;)